MATI SA’JERONING URIP MUDIK KE - DIRI PRIBADI ( BALI MENYANG BAYE’E DEWE)

Meninggal dunia / mati adalah soal yg amat rumit bagi kehidupan manusia, tanpa ilmu kesempurnaan tentang kematian / MATI SA’JRONING URIP, maka manusia akan terjerumus ke dalam KERAJAAN KESESATAN, menjadi BANGSA JIN, SETAN, HANTU dll. Mati dalam kehidupan atau hidup dalam kematian itulah hidup abadi, yang mati nafsunya, jasad yang menjalani mati, ing naliko harkating jasad KETARIK oleh pangraoising BUDI, kemudian pangraosing budi DIHIRUP oleh HAWA NAFSU, hawaning nafsu kemudian DISERAP oleh / kedalam SUKMO, kemudian wisesoning sukmo DI-KUKUD oleh panguwusoning ROHSO, lalu luluh / manjing ke dalam PRANOWONE CAHYO banjur nunggal kalian purbaning ATMO / HAYUN / URIP, wangsul dados dzat Mutlak / kodhim Azali Abadi, ingriku wahanane jasad kita di sebut MATI. Ananging sejatipun boten pejah, namung pindah panggonan mawon, malah waluya gesangipun langgeng wonten ing kahanan kito kang Moho Mulyo / Moho Suci, milo dipun lambangi TANGGAL SATU BULAN PURNAMA, tegesipun dereng dangu wonten ing dunyo sampun wangsul malih dados manusia sejati ingkang sampurno sarto waskito ing saniskoro boten samar malih dating kang gib-goib sedoyo. Mati sa’jeroming Urip adalah suatu konsep manungso ( manunggaling JASAD kalian ROHSO ) DJOWO ( djomoboropono Woshokotho / sifat rohman dan rokhim yg ada dalam hati ) yang hendak melakukan pengembaraan spriritual untuk menembus 7 langit yg masih goib atau di sebut Isra’ Mi’roj sebagaimana yg pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Proses pengembaraan spiritual ini dalam tradisi djowo di sebut NGRACUT JASAD / NGEROGO SUKMO atau ( BALI MENYANG BAYE’E DEWE) Rogo Sirno, Sukmo Mukso.. Ritual tersebut dilakukan dengan tujuan agar kelak sebelum manusia mengalami kematian / kiamat kubro / kiamat sempurna, manusia sudah tidak kaget lagi dengan adanya perwujudan-perwujudan yg mengganggu dalam proses kembali kepada ASAL KITA YG SEJATI..
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu
(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
(QS. Al-Baqarah:214)




Supaya terhindar dari godaan perwujudan-perwujudan itu, maka manusia hatinya harus AWAS, TEGUH, HATI-HATI DAN BIJAKSANA terhadap kerajaan kang sejati yg tidak dapat dilihat / masih dalam tabir. Manusia harus mawas diri dan Hati-hati terhadap segala godaan dalam proses kematian, karena segala yg tampak itu bukanlah akhir yang sejati, bukan kesempurnaan yg sejati.

 http://nur-maunah.blogspot.com/2012/10/olah-roh-manunggaling-kawula-lan-gusti.html

Komentar

  1. Menurut saya terkadang sifat manusia itu tergantung terhadap karakter masing" dan tidak harus bisa menjalani hdup yg sesudah atau pun sbelum kita mati .karena biar bagaimana manusia itu tdklh sempurnah .dan asl kta dri mana kita akn kembali kesana jg yaitu kekehidupan yg seharusnya .dan itu hak dan nyata .
    Jadi kita dtuntut untuk belajar dan belajar dari gk bsa ap" menjadi bsa dan bahkan mendalaminya ilmu kepribadian dri menuju asl asul manuasia yg sesungguhnya .

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertanian dimasa majapahit.

8 Ajaran Jawa Leluhur Tumenggung Majapahit